Jurnal · Anton Kusnadi

Music··8 min·Read in English

Opera: Hiburan Populer Yang Terlupakan

Sepasang teropong opera antik tergeletak di dalam kegelapan, tersorot oleh seberkas cahaya.

Ringkasan Eksekutif


Wanita Gemuk dan Helm Bertanduk

Ucapkan kata “opera”, maka imajinasi publik modern akan langsung membayangkan satu kostum khas: seorang penyanyi soprano bertubuh gempal yang mengenakan helm bertanduk, menggenggam tombak, dan melantunkan nada tinggi yang sanggup memecahkan kaca. Adagium populer bahkan berseloroh, “Pertunjukan belum usai sebelum si wanita gemuk bernyanyi.” Satu generasi penuh bahkan berkenalan dengan karya Wagner lewat kartun — episode Bugs Bunny tahun 1957, What’s Opera, Doc?, memplesetkan lagu Ride of the Valkyries menjadi “Kill the wabbit”, dan lelucon itu terbukti bertahan lebih lama dibanding sebagian besar pementasan yang diejeknya.

Ejekan semacam itu wajar-wajar saja. Saya tidak akan berpura-pura bahwa opera tidak terlihat absurd dari luar: para pemainnya saling berteriak lewat nyanyian selama tiga jam dalam bahasa yang tak dipahami penonton, dan setiap karakter membutuhkan waktu yang tak masuk akal panjangnya hanya untuk mati di panggung. Namun, perhatikan jenis lelucon ini. Tak ada sesuatu yang bisa menjadi klise tanpa terlebih dahulu menjadi sangat terkenal. Ejekan sejatinya adalah bentuk fosil dari sebuah ketenaran. Tak ada orang yang sudi memparodikan bentuk seni yang tak pernah diperhitungkan.

Maka, tulisan ini hadir sebagai panduan awal bagi mereka yang belum ‘bertobat’: membedah apa itu opera sebenarnya, bagaimana ia menaklukkan Eropa, mengapa ia berbahasa Italia, dan seberapa banyak esensinya yang sebenarnya sudah Anda miliki tanpa Anda sadari.

Musik Pop Lintas Tiga Abad

Opera lahir sekitar tahun 1600 di Firenze sebagai sebuah eksperimen akademis — upaya menghidupkan kembali drama Yunani Kuno dengan membiarkan vokal tunggal berdeklamasi diiringi instrumen, sebuah penyederhanaan dari musik polifoni era Renaisans agar pesan kata-katanya bisa berbicara. Saya sempat mengulas bagian itu dalam peta panduan mendengar. Namun yang belum terulas di sana adalah apa yang terjadi berikutnya: eksperimen tersebut ‘jebol’ dan keluar dari tembok istana.

Pada tahun 1637, Venesia membuka gedung opera publik pertama, dan dari sanalah seni ini menemukan model bisnisnya — tiket dijual kepada siapa saja yang sanggup membayar, bukan lagi sekadar undangan eksklusif para bangsawan. Pada akhir abad tersebut, Venesia telah memiliki belasan gedung teater. Opera menjelma menjadi panggung tempat masyarakat Venesia berkaca: stan penonton (boxes) disewa oleh keluarga-keluarga layaknya tiket terusan musiman, intrik politik terjadi di lorong-lorong teater, dan drama sesungguhnya tak selalu terjadi di atas panggung.

Ketenaran opera bertahan hingga berabad-abad. Penyanyi-penyanyi utamanya adalah selebritas papan atas dengan daya pikat luar biasa — penyanyi castrato Farinelli dielu-elukan publik di seluruh Eropa satu abad sebelum istilah “fans” dikenal. Ketika Giuseppe Verdi menulis Rigoletto untuk pementasan di Venesia pada 1851, dikisahkan bahwa ia sengaja menyembunyikan lagu aria milik sang tenor hingga sesi latihan terakhir, karena yakin para pengemudi sampan gondola akan langsung bersenandung menyanyikannya sebelum malam pembukaan; lagu “La donna è mobile” terbukti membenarkan instingnya. Dan ketika Verdi wafat pada 1901, lautan manusia yang memadati jalanan kota Milan menyanyikan paduan suara “Va, pensiero” dari opera Nabucco saat peti jenazahnya lewat — sebuah bangsa yang menyanyikan kembali lagu ciptaan komposer kebanggaannya sebagai penghormatan terakhir.

Fenomena semacam itu bukanlah pasar yang sempit (niche). Itu adalah musik pop.

Bahkan Mozart Pun Bertaruh di Panggung Opera

Hari ini kita mengategorikan Mozart lewat simfoni dan konserto pianonya — sebuah pengelompokan yang mungkin akan membingungkannya jika ia masih hidup. Pada zamannya, panggung operalah pusat prestise, ladang uang, dan muara dari karya-karyanya yang paling ambisius: lebih dari dua puluh opera, termasuk tiga komedi bahasa Italia yang dianggap banyak orang sebagai puncak keindahan bentuk seni ini — The Marriage of Figaro, Don Giovanni, Così fan tutte — serta The Magic Flute, yang ia rampungkan beberapa minggu sebelum wafat. Haydn menulis lebih dari selusin opera. Beethoven, yang menganggap penciptaan opera sebagai proses yang menyiksa, tetap menghabiskan satu dekade bergulat melahirkan satu-satunya opera karyanya, Fidelio, karena sebuah opera adalah utang moral komposer hebat kepada dunia.

Poin ini sangat layak kita renungkan: para komposer yang kini kita agungkan lewat “musik instrumental serius” sejatinya memandang gedung opera sebagai panggung utama kesenian mereka. Balai konser adalah tempat Anda membangun reputasi; gedung opera adalah tempat Anda mempertaruhkannya.

Mengapa Dahulu Semuanya Berbahasa Italia?

Inilah satu fakta menariknya. Bahasa standar opera selama dua abad adalah bahasa Italia — tidak hanya di Italia, tetapi juga di gedung-gedung pertunjukan London, Wina, Dresden, hingga St. Petersburg. Alasannya tersusun secara logis.

Italia yang menciptakan bentuk seni ini dan mengindustrialisasikannya: Venesia membangun gedung teaternya, Napoli melatih para penyanyinya, dan rombongan tur opera Italia mengekspor produk kebudayaan ini ke seluruh Eropa lengkap dengan bahasanya. Selera para bangsawan pun mengekor — memiliki rombongan opera Italia adalah barang impor mewah, seperti mempekerjakan koki asal Prancis. Konvensi ini membeku begitu kuat hingga Handel, seorang komposer Jerman yang bekerja di Inggris, menghabiskan tiga puluh tahun menulis opera berbahasa Italia untuk penonton London yang sebagian besar tak paham sepatah kata pun artinya. Mozart, seorang Austria di Wina, menggunakan naskah (libretto) bahasa Italia garapan Lorenzo Da Ponte untuk komedi-komedi terbesarnya.

Karakter bahasanya sendiri sangat mendukung. Bahasa Italia mengakhiri hampir setiap kata dengan huruf vokal terbuka dan hampir bebas dari gugusan konsonan yang berat; bahasanya seolah bernyanyi dengan sendirinya, itulah mengapa para guru vokal hingga kini masih melatih murid baru dengan bahasa ini. Istilah-istilahnya pun tak pernah berganti: aria, libretto, soprano, diva, bravo — seluruh terminologi seni ini tetap berbahasa Italia setelah empat abad berselang.

Hal inilah yang membuat pengecualiannya terasa begitu berpengaruh. Ketika seorang komposer memilih menggunakan bahasa lokal, itu adalah sebuah pernyataan politik dan budaya. The Magic Flute berbahasa Jerman karena ditulis bukan untuk kalangan istana, melainkan untuk teater rakyat di pinggiran Wina — sebuah pertunjukan Singspiel dengan dialog lisan, elemen dongeng, dan lelucon untuk penonton kelas bawah; Mozart, yang sempat mengeluh dalam surat-suratnya bahwa bangsa Jerman berhak memiliki opera mereka sendiri, mewujudkan salah satu karya terbaiknya. Opera Carmen berbahasa Prancis karena Bizet menulisnya untuk Opéra-Comique di Paris — di mana realisme belakang panggungnya sempat menggemparkan publik; Bizet wafat tiga bulan setelah pertunjukan perdana, tanpa pernah tahu bahwa ia telah menulis salah satu opera yang paling sering dipentaskan di muka bumi. Pada abad kesembilan belas, bernyanyi dalam bahasa ibu telah menjelma menjadi simbol identitas nasional: Wagner dalam bahasa Jerman, Mussorgsky dalam bahasa Rusia, Smetana dalam bahasa Ceko. Bahasa universal (lingua franca) melunak memberi jalan bagi suara-suara nasionalis — dan peta bahasa opera menjelma menjadi peta pencarian jati diri bangsa-bangsa Eropa.

Apa yang Tanpa Sadar Sudah Kita Miliki

Alasan untuk menikmati opera hari ini bukanlah karena Anda harus memaksakan selera baru. Melainkan karena selera itu sebenarnya sudah ada di dalam diri Anda.

Anda sudah mengenali nada-nadanya. “Nessun dorma” menggetarkan stadion saat Luciano Pavarotti menyanyikannya di Piala Dunia 1990. Lagu Habanera dari opera Carmen telah menjadi musik latar iklan yang tak terhitung jumlahnya. Ride of the Valkyries mengiringi helikopter dalam film Apocalypse Now dan seekor kelinci dalam kartun. Lagu Flower Duet karya Delibes melatari iklan maskapai penerbangan selama dua dekade. Melodi-melodi ini tidak ‘menetes’ dari kalangan elite ke bawah; mereka hanya kembali ke tengah audiens massa yang memang menjadi tujuan awal penciptaan mereka.

Anda juga sudah menguasai tata bahasanya. Ketika Hollywood membutuhkan bahasa musik pada dekade 1930-an, mereka mempekerjakan komposer Eropa berlatar belakang opera — Erich Wolfgang Korngold dan Max Steiner, keduanya asal Wina — dan mereka membawa teknik Wagner bersama mereka: berikan setiap karakter satu tema musik khusus, lalu kembangkan seiring dinamika alur drama. Penataan musik film (film scoring) hingga kini masih bekerja dengan cara yang persis sama. Jika Anda sanggup bersenandung lagu Imperial March dari Star Wars dan merasakan bagaimana suasananya mendadak mencekam saat melodi itu muncul, Anda sejatinya sudah memahami konsep leitmotif — yang artinya, Anda telah memahami gagasan teknis utama dari opera era Romantik akhir.

Hanya ada dua hal tersisa dari opera yang tak akan pernah bisa disajikan oleh layar mana pun. Yang pertama adalah vokal murni tanpa mikrofon: seorang penyanyi opera sanggup menembus suara 80 instrumen orkestra dan menjangkau sudut terbelakang hall berkapasitas 3.000 kursi tanpa bantuan pengeras suara, murni lewat teknik fisika tubuh dan vokal — secara langsung, sensasinya berada di antara seni musik dan pencapaian atletik. Yang kedua adalah jalan ceritanya, yang sejatinya jauh dari kata rumit: cinta, cemburu, penyamaran, pengkhianatan, dan pembunuhan. Serial drama televisi yang meminjam istilah “soap opera” (sinetron) tahu betul apa yang mereka tiru. Opera adalah melodrama yang dieksekusi dengan tingkat penguasaan ketrampilan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah melodrama. Dan menikmati opera tak lagi sulit sejak hadirnya teks terjemahan di atas panggung (surtitles) pada dekade 1980-an — ataupun mahal untuk dicoba, sebab siaran langsung di bioskop kini menjual tiket pementasan opera seharga tiket bioskop biasa.

Tiga Pintu Masuk

Selaras dengan peta panduan mendengar, satu pintu untuk setiap bahasa:

  • The Magic Flute — Mozart, 1791 (Bahasa Jerman). Dongeng dengan dialog lisan, ditulis untuk teater rakyat; pintu yang akan saya buka pertama kali, dan pintu terbaik untuk mengajak keluarga.
  • Carmen — Bizet, 1875 (Bahasa Prancis). Pementasan dengan kepadatan lagu populer tertinggi; pada babak kedua, Anda akan menyadari empat melodi yang tanpa sadar sudah pernah Anda dengar sebelumnya.
  • La bohème — Puccini, 1896 (Bahasa Italia). Empat sahabat miskin, musim dingin di Paris, durasi dua jam; diakhiri dengan air mata yang terasa sangat emosional dan pantas — keahlian khas Puccini.

Opera tidak pernah menjadi rumit. Ia hanya terasa asing, dan rasa asing adalah sesuatu yang bisa disembuhkan. Penawarnya hanya membutuhkan waktu satu malam — dan pintunya telah terbuka lebar selama empat ratus tahun.